Dinilai Berdampak Positif,  Warga Tamanmartani Dukung Pembangunan TPST
Pemerintahan

Dinilai Berdampak Positif, Warga Tamanmartani Dukung Pembangunan TPST

Kalasan, (sleman.sorot.co) – Pembangunan Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) di Kenaji, Tamanmartani, Kalasan mendapat dukungan warga setempat. Mereka menyatakan tidak keberatan. Alasannya keberadaannya akan membawa dampak positif, baik lingkungan maupun perekonomian.

Seluruh warganya mendukung pembangunan TPST itu,” kata Ketua RW 2 Padukuhan Kenaji, Tamanmartani, Kalasan, Slema , Abu Bakar (55), Jumat (13/5/2022).

Abu mengatakan selain dapat menjadi solusi persoalan sampah, keberadaan TPST juga akan berimbas pada lingkungan dan pemberdayaan warga. Untuk lingkungan berhubungan dengan kebersihan dan kesehatan. Sebab semua sampah yang dibawa langsung diproses, sehingga tidak ada timbunan dan bau sampah. 

Selain itu warga juga akan terlibat dalam pengolahan sampah,” paparnya.

Lurah Tamanmartani, Kalasan, Gandang Hardjanta mengatakan ada beberapa pertimbangan warga mendukung TPST. Selain dari aspek kesehatan dan kenyamanan. Secara tidak langsung juga berdampak terhadap perekonomian mengingat wilayahnya merupakan daerah wisata

Sebelummya juga sudah disosialisasi tentang rencana TPST itu. Termasuk Februari 2022 beberapa tokoh masyarakat dan warga ikut studi banding pengolahan sampah di Denpasar, Bali yang mengadopsi teknologi Jerman. Sehingga mereka melihat langsung bagaiman proses pengolahn sampah, terutama organik. Dimana dalam pengolahannya tidak menimbulkan polusi udara.

Setelah mendapat kepastian keberadaan TPST tidak akan menimbulkan pencemaran, warga Tamanmartani menyatakan setuju atas rencana tersebut,” jelasnya.

Lahan TPST itu merupakan tanah kas desa (TKD) yang selama ini.pemanfaatanna kurang optimal. Luasannya kurang lebih 1,3 hektare dan berjarak sekitar 500 meter dari pemukiman. Selama ini, areal di dekat aliran Sungai Opak itu merupakan lahan tidur yang sering ditambang material pasirnya.

Menurut Gandang, dengan dijadikan tempat pengolahan sampah, warga akan diuntungkan karena tidak ada lagi penambangan yang berpotensi merusak lingkungan. Akses jalan menuju lokasi juga akan diperbaiki.

Keuntungan lain, biaya operasional pembuangan sampah dapat ditekan. Selama ini, warga ditarik retribusi Rp 25 ribu per KK untuk pengambilan sampah yang dikelola oleh BUMDes,” paparnya.

Selanjutnya, sampah tersebut dibuang ke TPA Regional Piyungan. Sekali mengirimkan sampah ke TPA diperhitungkan butuh biaya sekitar Rp 450 ribu. Itu pun tidak jarang harus menunggu antrian kendaraan sehingga membuang waktu.

Jika TPST senilai Rp 38 miliar telah terealisasi, pihak BUMDes tetap akan berperan. Hasil pemilahan awal sampah anorganik akan dibeli oleh BUMDes untuk diolah kembali. Warga juga bisa memanfaatkan produk pupuk yang dihasilkan TPST untuk pertanian.

Jadi, semua merasakan keuntungan,” jelas Gandang.

Tempat pengolahan sampah ini direncanakan berkapasitas 15 rit-20 per hari. Fasilitas ditargetkan mulai beroperasi tahun depan. Dan akan menjadi salah satu terbaik di Indonesia.