IKM di Indonesia Dinilai Masih Kurang Dikelola Secara Maksimal
Ekonomi

IKM di Indonesia Dinilai Masih Kurang Dikelola Secara Maksimal

Depok,(sleman.sorot.co)--Masih adanya sejumlah masalah, membuat pengembangan Industri Kecil dan Menengah (IKM) baru di beberapa wilayah Indonesia saat ini stagnan. Direktur IKM Kementrian Perindustrian, Gati Wibawaningsih tidak segan menyebut para penjabat pemerintah terkait dalam hal ini tidak fokus dalam pengembangkan IKM di daerah masing-masing. 

Hal itu ia sampaikan seusai membuka rapat penyusunan rencana kerja Dana Alokasi Khusus (DAK) fisik bidang IKM tahun anggaran 2020 di salah satu hotel di Caturtunggal, Kecamatan Depok, Sleman, Rabu (27/11/2019) malam. Rapat kerja tersebut dihadiri sejumlah perwakilan dinas perindustrian seluruh kabupaten/kota di Indonesia dari 31 provinsi. 

(Pengembangan IKM) tidak sulit, hanya kadang-kandang mereka tidak fokus. Perkembangan industri dan perkembangan komunikasi ini kan berlangsung sangat cepat, sehingga kadang ini membuat mereka tidak fokus juga,” ungkapnya. 

Gati menjelaskan perlu adanya satu visi guna pengembangan IKM yang mempunyai nilai yang bagus, namun dari segi harga juga mampu berdaya saing sejumlah barang impor. Maka dari hal itu, perlu adanya kesiapan bahan baku yang harus ada di wilayah tumbuhnya IKM tersebut.  

Kita harus kembangkan daerah daerah atau komoditi di suatu daerah tapi bahan bakunya dari daerah tersebut. Nah ini akan lebih mudah lagi dikembangkan, supaya impor (bahan) tidak ada lagi. Dalam industri itu 60 sampai 70 adalah bahan baku, kalau bahan baku itu dari daerah tersebut, harga bisa bersaing dengan barang barang impor, yang mana bahan baku di Indonesia hampir semua ada untuk produk ikm kecuali untuk tekstil,” bebernya. 

Dilanjutkan Gati, pemerintah dalam rancangan teknokratik RPJMN tahun 2020 hingga 2024 tahun kedepan akan berfokus juga untuk mendorong tumbuhnya 50 sentra IKM baru di luar Jawa. Selain itu semakin pesatnya pertumbuhan iklim pariwisata di Indonesia, mengharuskan masyarakat dan pemerintah bergerak cepat memanfaatkannya untuk pertumbuhan ekonomi dari sektor IKM. 

Peluang pada sektor pariwisata harus didukung oleh pengembangan sektor industri sehingga daerah-daerah wisata tidak hanya mengunggulkan keindahan alamnya, tetapi dapat menghasilkan suatu produk yang bersifat unik khas daerah dengan memanfaatkan sumber daya lokal, yang dipadu dengan seni budaya, sebagai kreasi dan inovasi bernilai tambah tinggi,” pungkasnya. 

Untuk diketahui, DAK fisik bidang IKM sejak tahun 2016 sampai dengan tahun 2019 telah diperoleh 285 kabupaten/kota dengan total anggaran mencapain Rp 1.846 triliun. Sedangkan pada tahun 2020 terdapat 106 kabupaten/kota yang memperoleh DAK dengan total anggaran Rp 400 miliar.