Ditreskrimsus Polda DIY Bongkar Penjualan BBM Bersubsidi Ilegal
Hukum & Kriminal

Ditreskrimsus Polda DIY Bongkar Penjualan BBM Bersubsidi Ilegal

Depok,(sleman.sorot.co)--Ditreskrimsus Polda DIY eberhasil membongkar praktik penjualan BBM bersubsidi jenis solar secara ilegal di wilayah DIY. Petugas berhasil mengamankan tiga orang tersangka bersama barang bukti berupa satu truk tangki berisi 8.000 liter solar dan 8 buah penampung solar masing-masing berkapasitas 1.000 liter.

Dirreskrimsus Polda DIY Kombes Pol Toni Surya Putra mengatakan, ketiga tersangka yang diamankan yakni yakni SS (40) warga Demak Jawa Tengah, berperan sebagai pengendali operasi. Kemudian EP (39) dan LS (42) warga Semarang, Jawa Tengah merupakan sopir dan kernet truk tangki.

Dijelaskan, pengungkapan kasus ini bermula pada 13 November 2019 petugas menghentikan sebuah truk tangki warna biru di Jalan Nanggulan, Mendut, Serandu, Banjarharjo, Kalibawang, Kulon Progo. Dalam pemeriksaan petugas, sopir tidak dapat menunjukkan kelengkapan surat dan dokumen yang sah terkait muatan BBM yang dibawa.

Selanjutnya, sopir beserta krent dan truk bermuatan solar bersubsidi itu kemudian diamankan petugas ke Mappolda DIY.

Dari hasil penyelidikan, BBM jenis solar tersebut didapat dari sejumlah SPBU di wilayah Kendal Jawa Tengah menggunakan truk yang tangki BBM nya telah dimodifikasi. Tangki BBM yang sebelumnya hanya mampu menampung 200 liter solar, dimodifikasi sehingga mampu menampung hingga 500 liter. Solar dari hasil pembelian tersebut kemudian dipindah ke bak-bak penampungan dan setelah terkumpul lalu dimasukkan ke dalam truk tangki.

Kepada petugas pelaku mengaku membeli solar nonsubsidi seharga Rp 5.500 kemudian dijual dengan harga Rp 7600 ke sejumlah industri di wilayah DIY dan Jateng. Pelaku sudah menjalankan praktik ilegal ini sekitar satu tahun dengan keuntungan antara Rp 5 juta hingga Rp 10 juta per bulan.

Guna mempertanggung jawabkan perbuatannya, para pelaku dijerat dengan UU RI No 22 tahun 2001 tentang Minyak dan Gas Bumi, pasal 55 dan pasal 53 dengan ancaman kurungan penjara 6 tahun atau denda 40 sampai 60 miliar rupiah,” kata Kompol Toni, Rabu (27/11).