HUT Bhayangkara, Jogja Police Watch Beri Catatan Kinerja Polda DIY
Hukum & Kriminal

HUT Bhayangkara, Jogja Police Watch Beri Catatan Kinerja Polda DIY

Depok,(sleman.sorot.co)--Pada tanggal 1 Juli diperingati sebagai Hari Bhayangkara Kepolisian Republik Indonesia. Tepat di hari Minggu (01/07/2018) seluruh aparatur negara, yakni polisi memperingati Hari Bhayangkara ke-72 tahun. Pada momentum ini, Jogja Police Watch JPW mengulas catatan sekaligus evaluasi bagi aparatur negara di wilayah hukum Polda Daerah Istimewa Yogyakarta.

Yang menjadi point evaluasi kali ini, pertama adalah soal penanganan kejahatan di jalanan yang tak sedikit korbannya mengalami luka-luka bahkan meninggal dunia. Apalagi ironisnya, para pelaku didominasi pelajar dan remaja.

Disampaikan oleh Kepala Divisi Humas Jogja Police Watch, Baharuddin Kamba bahwa kerja cepat dari aparat kepolisian dengan menangkap para pelaku kekerasan jalanan ini layak diapresiasi. Namun tetap diharapkan dalam penanganan kasus kejahatan jalanan bisa diberantas hingga ke akar-akarnya dengan proses hukum yang adil, profesional, dan transparan.

"Para pelaku ada yang sudah divonis hukuman meskipun vonis yang dijatuhkan hakim masih dianggap tidak setimpal dengan perbuatan pelaku,"kata dia.

Lalu evaluasi kedua terkait minimnya transparansi dalam penanganan kasus korupsi. Baharuddin mengatakan, kasus dugaan korupsi Dana Rekonstruksi atau Dakons di Desa Jatimuyo, Dlingo, Bantul, yang ditangani oleh Polda DIY hingga kini tidak ada perkembangan proses hukumnya. JPW menilai penanganan kasus tersebut terkesan mandeg atau jalan di tempat. 

Guna mempertanggungjawabkan kasus tersebut, lanjutnya, pihak Polda DIY harus berani terbuka kepada publik alasan penyelesaian kasus bisa sampai berlarut-larut. Jika pihak Polda DIY tidak mampu menanganinya, maka Polda DIY untuk tidak malu-malu melimpahkan ke Kejaksaan Tinggi DIY agar proses hukum ada asas kepastian hukumnya.

Selain itu, baru-baru terjadi pada Jumat (22/06) kemarin, dua tahanan terkait kasus pencurian dengan pemberatan di mess PSS Sleman di Jongkang Sariharjo, Ngaglik, Sleman kabur dari tahanan. Kaburnya tahanan Polsek Ngaglik ini tidaklah cukup dengan teguran keras dari Kapolda DIY karena kelalaian anggota membuat tahanan bisa kabur dengan leluasa dan dapat membahayakan keselamatan jiwa orang lain.

"Karena bisa saja para tersangka yang kabur melakukan tindakan kekerasan dengan pemberatan di tempat lain,"ujarnya.

JPW menyarankan, seharusnya sanksi disiplin dapat berupa penurunan pangkat, tidak diperbolehkan mengikuti pendidikan dan dinonaktifkan. Yang diberikan kepada anggota termasuk pimpinan dalam hal ini Kapolsek Ngaglik yang juga lalai sehingga mengakibatkan tahanan kabur.

Dan yang menjadi evaluasi terakhir dari JPW adalah soal kasus pengerusakan fasilitas negara di Pengadilan Negeri (PN) Bantul, DIY pada Kamis (28/06) oleh sekelompok massa yang diduga dari ormas Pemuda Pancasila.

Kasus pengerusakan di lembaga peradilan dimana tempat orang mencari keadilan selain mencoreng nilai-nilai Pancasila itu sendiri juga sikap tersebut dapat dikategorikan sebagai Contempt of Court atau penghinaan terhadap lembaga peradilan.

Gerak cepat Polda DIY dengan menangkap dan menetapkan tiga tersangka pelaku anarkisme di gedung PN Bantul, DIY, patut diapresiasi. Kini menunggu gerak cepat, kecanggihan, keberanian, profesionalitas dan transpransi dari aparat kepolisian Polda DIY untuk menangkap dalang atau aktor intelektual dibalik aksi anarkisme di PN Bantul, DIY, yang sedang diburu.

"Dengan ditangkapnya dalang dibalik aksi anarkisme di PN Bantul menjadi 'kado istimewa' di HUT Polri yang ke-72 tahun. Kita tunggu dan kawal proses hukum ini hingga tuntas tanpa intervensi karena tidak ada yang kebal dimuka hukum,"ucapnya.