Unik, Perupa Ini Membuat Karya Lukis Raksasa di Atas Media Seng
Budaya

Unik, Perupa Ini Membuat Karya Lukis Raksasa di Atas Media Seng

Mlati,(sleman.sorot.co)--Ruang apresiasi karya jelas sudah menjadi bagian yang dibutuhkan bagi seorang seniman. Baik berupa pameran atau sejenisnya. Bagi seniman lukis yang satu ini, ia sudah lama mendambakan pameran tunggal untuk maha karyanya. Kini, impiannya terwujud. Pameran tunggal yang digelarnya pada Senin (11/06) di Omah Kecebong, bukanlah pameran tunggal perdananya, melainkan sudah ke delapan kalinya.

Seniman lukis yang enggan menyebut dirinya seniman itu yang tak lain adalah Dodot Widodo. Rekan-rekannya biasa memanggilnya Dodot. Dalam pameran tunggal yang ia gelar, ia kembali membuat lanjutan dari karya sebelumnya yang berjudul ‘Menjemput Impian’. Hanya saja, karyanya kali ini ditambah dengan embel-embel session 2.

Dodot bercerita, tema ini mengandung pesan bahwa segala angan dan cita haruslah dijemput, tak lagi hanya bisa menunggu hari baik, atau istilah bekennya ‘Jemput Bola’. Karya lukisannya, menampilkan seorang pria tua yang sederhana, dengan tambahan properti sepeda pancalnya. Dodot mengumpamakan sepeda adalah alat meraih cita-cita, lebih fokusnya dalam meraih cita-cita adalah melalui tindakan.

Pesan dari karya sangat luas, Pak Tua dengan sederhananya pakai kolor menunjukkan orang hidup sederhana tidak glamour segala sesutu bisa tercover. Karya sederhana ada pesan mendalam,” ungkapnya.

Yang menjadi lebih menarik dari karyanya, selain style lukisannya yang detail, adalah media yang ia gunakan. Dodot cukup bagus dalam melihat potensi nilai estetika dalam berseni. Jika seniman pada umumnya menggunakan media kanvas, ia memanfaatkan seng sebagai media utama karya lukisan dalam pameran tunggalnya kali ini. 

Seng dengan bentuk bergelombang ia maknai sebagai metafora kehidupannya. Selain menambah apik karyanya, ia juga bisa melihat dari sisi seng yang multitafsir. Seng biasa digunakan sebagai penutup pintu, dan kini menjadi media apik yang berhasil ia kombinasikan dengan karya lukisannya.

Kalau saya ini sedang eksplorasi dengan seng. Karena seng dipandag sebelah mata, dibuang. Saya coba jadikan yang berfungsi, karya yang berbicara, memiliki pesan, bahkan mewakili yang dari hati kecil,” ujarnya.

Ia mengaku, style lukisan ‘Menjemput Impian’nya yang ia garap selama sepekan itu tidak jauh beda dengan karya sebelumnya. Namun kali ini ia merasa bisa lebih bebas mengeksplorasi dan mengeluarkan luapan jiwa yang selama ini tertahan.

Meski mayoritas orang akan menyebutnya sebagai seniman, namun Dodot masih takut menyebut dirinya begitu.

Biarlah orang lain yang menyebut,” ungkapnya sambil sedikit bercanda.

Karya-karyanya yang ia perkirakan lebih dari 2000 itu, sudah pernah dipamerkan di Eropa, Singapura, Hongkong, juga Perancis.

Ia mengaku, bakat piawainya muncul sejak usia dini. Dari SD ia sudah gemar menggambar. Bahkan ia pun bercakap bahwa ia adalah keturunan seniman. Maka tak heran karyanya sudah pernah dipamerkan hingga di Eropa. Pernah ia menyoroti isu dunia yang tengah berkembang seperti keadaan Amerika, Mata Uang Indonesia, bahkan Timur Tengah dan minyaknya yang melimpah dan dituangkan ke dalam karya seni lukis.

Karyanya pernah diapresiasi dan dibeli dengan harga di atas Rp. 100 Juta, ada pula karyanya dengan estimasi harga lelang Rp 28 Juta - Rp 40 Juta dibeli dengan harga Rp. 75 Juta.

Ia mengakui dalam berkarya, ia tidak banyak berubah. Yang terpenting apa yang ia pandang menarik akan ia garap dengan ekplorasi media yang menurutnya pas.

Dalam pembukaan acara pameran tunggalnya, ia juga turut menunjukkan mini aksinya dengan live lukis model ke tamu dan rekannya. Bahkan diakui Yunike Theresia Siahaan, sang model lukis, karya Dodot gayanya sangat kental. Dodot dinilai paham dengan pewarnaan, karyanya bagus dan ia menyukai lukisan Dodot.