Peneliti UGM Ciptakan Alat Pendeteksi Longsor Berbasis Ambang Batas Hujan
Sosial

Peneliti UGM Ciptakan Alat Pendeteksi Longsor Berbasis Ambang Batas Hujan

Depok,(sleman.sorot.co)--Bagi masyarakat yang berada di daerah rawan longsor, sangat membutuhkan sistem yang bisa mendeteksi dini bencana longsor. Namun di mata peneliti, sistem deteksi dini juga tidak bisa didapat dengan harga yang murah. Hal itu mendasari para peniliti dari fakultas Geografi UGM membuat dan mengembangkan sistem peringatan dini bencana tanah longsor yang sederhana, sehingga mudah dioperasikan. Sistem peringatan yang berbasis ambang batas hujan tersebut dinamai Sipendil atau sistem peringatan dini longsor.

Saat membeberkan sistem kerja Sipendil pada Jumat (18/05) Dosen Departemen Geografi Lingkungan, Nugroho Christanto juga menyampaikan, ide awal pembuatan sistem ini yang bermula di tahun 2013 atas permintaan masyarakat Sitieng di Wonosobo yang khawatir akan ancaman tanah longsor.

Sitem peringatan dini longsor sipendil ini dikembangkan menggunakan komponen dan material yang sederhana. Tersusun atas dua komponen utama yakni pipa penampung air hujan dan box controller. Di dalam box controller ada tombol power, kran , lampu LED yang dijadikan indikator, dan threshold controller. Serta dipasang beberapa sensor untuk pendukung sistem kerja Sipendil. Selain sebagai peringatan dini adanya longsor, sistem ini juga difungsikan sebagai alat pengukur hujan.

Alat ukur curah hujan dapat dikembangkan dengan alat sederhana dan mudah diperoleh seperti botol air mineral, pipa pralonpvc, dan corong minyak plastic sebagai wadah penampung air hujan,” jelas Nugroho.

Sistem kerja sipendil dimulai dengan air hujan yang ditampung melalui penampung berbentuk corong yang dipasang di atap rumah, kemudian disalurkan menggunakan selang ke tabung pipa. Setelah air hujan tertampung di dalam pipa,maka akan diketahui ketebalan hujan yang menjadi indikasi peringatan longsor. Pada batas ketebalan hujan 50 mm, box controller sudah membunyikan alarm. Semakin naik angka ketebalan hujan maka frequensi alarm akan semakin cepat, sehingga menjadi indikator warga dalam melakukan sebuah tindakan penyelamatan diri. 

Sipendil diatur pada ambang batas 55-80 mm. Tidak sampai pada angka 100 mm karena kita pinginnya wasapda sebelum terjadi. Namun penentu pemberi aba-aba, ada pada masing-masing operator Sipendil dan ketentuan karakteristik wilayah,” tambah Nugroho.

Dalam membangun sistem ini diperlukan dukungan data historis kejadian longsor dan curah hujan yang pernah terjadi. Sehingga bisa diperoleh korelasi antara curah hujan dan longsor sebagai penentu ambang batas kemampuan tanah merespon curah hujan maksimal. Hingga kini, Sipendil telah terpasang di lebih dari 40 titik di daerah Temanggung, Wonosobo dan Banjarnegara.