Demi Efisiensi Waktu, Warga Nekat Menerobos Perlintasan Kereta Api
Peristiwa

Demi Efisiensi Waktu, Warga Nekat Menerobos Perlintasan Kereta Api

Depok,(sleman.sorot.co)--Merupakan jalur perlintasan kereta api di bawah jembatan layang Janti, perlintasan kereta api di Kelurahan Caturtunggal, Kecamatan Depok menjadi target penutupan pada Oktober 2017 lalu. Kondisi 5 bulan terakhir di sekitar perlintasan hanya dipasangi palang yang belum permanen sehingga masih bisa diterobos. Tak sedikit warga yang nekat melintas di perlintasan rel kereta api dengan alasan enggan berjalan jauh.

Kondisi ini diakui warga membahayakan bagi mereka, karena sudah tidak ada lagi sirine peringatan ketika ada kereta yang melintas. Namun mau tidak mau, untuk efisiensi waktu mereka akhirnya melakukan itu.

Menurut Katiyo, warga Caturtunggal yang sehari-sehari melintas di area perlintasan kereta api tersebut, ia terpaksa melakukan hal itu karena lokasi tempat ia berjualan berada di selatan rel dan rumahnya tak jauh dari sebelah utara rel. Baginya akan lebih cepat jika menyeberang lewat rel meskipun berbahaya.

Ya tiap hari saya bawa dagangan saya lewat rel, mau muter jelas jauh. Mending lewat rel kan deket tapi ya tengak-tengok takut ada kereta lewat,” ungkapnya, Sabtu (14/04/2018).

Menurut Katiyo, banyak orang dari arah utara rel ingin menuju ke sebelah selatan rel. Begitupun sebaliknya sering melintasi rel tersebut. Selama ini tidak ada penertiban dari petugas manapun sehingga warga merasa biasa-biasa saja. 

Selain pejalan kaki yang banyak ditemui melintas, juga beberapa pengendara sepeda pancal nekat melintas dengan membopong sepedanya. Bahkan ada anak sekolah yang juga melintas di area yang rawan dan berbahaya ini.

Sesuai penyataan Ani yang tengah melintas membawa sepeda pancalnya. Ia mengakui resiko dan bahanya tinggi. Namun jika ia harus melintas lewat jembatan layang ia juga mengkhawatirkan keselamatannya, sebab laju kendaraan bermotor di jembatan layang amat cepat. Sehingga membuat pengendara sepeda pancal terancam.

Sebenarnya dua-duanya sama bahaya, tapi menurut saya yang paling bahaya lewat bawah karena harus nyebarang rel. Takutnya tiba-tiba ada kereta,” jelas Ani.

Hingga kini, aksi nekat warga yang melintasi rel kerata api, terkesan hanya dibiarkan. Nyatanya selama 5 bulan diakui warga tidak pernah ada teguran dan himbauan. Warga sendiri sebetulnya tidak menyetujui dengan rencana penutupan jalur kereta api tersebut. Mereka lebih memilih nekat melintasi jalur rel kereta api dengan segala resiko yang akan ditanggung.