Melawan Malas Olahraga, Freeletics Yogyakarta Ajak Beraktivitas Fisik dengan Kemasan Lebih Santai
Olahraga

Melawan Malas Olahraga, Freeletics Yogyakarta Ajak Beraktivitas Fisik dengan Kemasan Lebih Santai

Depok,(sleman.sorot.co)--Menjalani rutinitas yang padat setiap harinya terkadang membuat seseorang tidak memperhitungkan porsi olahraga bagi dirinya. Olahraga dianggap bukan lagi kebutuhan pokok, padahal jika tubuh manusia diibaratkan mesin, jika dalam kurun waktu lama tidak dioperasikan akan berkurang performa kinerjanya.

Sama halnya, tubuh manusia memerlukan gerakan olah tubuh yang mampu merangsang otot-otot, melancarkan sirkulasi darah dan oksigen dalam tubuh sehingga mampu mengoptimalkan metabolisme tubuh. 

Banyak orang berdalih malas olahraga karena tidak ada kawan yang supportif dengan niatannya untuk olahraga. Hal ini memang menjadi pemicu minimnya kemauan seseorang melakukan kegiatan fisik. Kini, beberapa orang yang tergabung dalam Freeletics Yogyakarta sudah menemukan kawan untuk diajak berolahraga. Tidak ada alasan lagi untuk malas berolahraga, karena Freeletics mengajak untuk melakukan aktivitas fisik yang dikemas dengan santai dan menyenangkan.

Bagi yang merasa tidak mahir dalam gerakan workout akan dipandu oleh Leader dari Freeletics. Addri Maulana salah satunya. Dalam setiap sesi workout ia memberikan arahan gerakan workout sesuai dengan fokus gerakan. Misalnya full body, lower body, tabata, cardio, abs, core, dan strength. Biasanya, sang leader akan memisahkan fokus gerakan ke dalam 3 sesi. 

Sambil melepas penat setelah melakukan workout bersama, Addri menceritakan ide inisiatif munculnya komunitas Body Weight Training ini. Ia mencerikatan bahwa Freeletics merupakan olahraga berbasis aplikasi hasil produkan Jerman. Di Jerman orang biasa berolahraga dengan menggunakan aplikasi tersebut yang menu latihannya diptentukan oleh coach dalam aplikasi. 

Lambat laun, Indonesia mulai mempopulerkan Freeletics pada 2014 melalui Andien Aisyah di Jakarta. Namun karena ada beberapa exercise dalam aplikasi Freeletics yang berbayar membuat orang enggan untuk membayar. Kebanyakan memilih untuk olahraga yang lebih enjoy dan bisa berkumpul dengan lainnya. 

Kepikiran untuk ngumpul freeletic di Jakarta, terus kota lain tertarik merka bikin Freeletics juga buat olahraga bareng, Bandung, Surabaya Makassar, Samarinda,” tutur Addri.

Para penggiat olahraga di Yogyakarta sendiri sebelumnya sudah mengetahui bahwa Freeletics adalah aplikasi lama.Beberapa sudah menerapkan latihan melalui aplikasinya namun hanya seorang diri. Dari sana muncul inisiatif

Kenapa Jogja gak di gabungin jadi satu” akhirnya pada Januari 2015 Freeletics Yogyakarta tercetus. 

Awalnya sempat mendapat respon yang bisa dibilang tdak banyak. Namun berkat publikasi yang terus dilakukan akhirnya bisa menambah anggota yang aktif berkegiatan fisik bersama Freeletics.

Kini selain aktif mengadakan sweat camp di hari sabtu dalam setiap minggunya, juga ada agenda Night Sweat Camp yang dilakukan setiap hari rabu malam dan Roso setiap senin malam. Selain itu, anggota Freeletics juga sering mengikuti event lari seperti Jogja Marathon.

"Sekarang mau bikin ada aktivitas lain, selain hari senin ada agenda lari malam roso. Temen yang nggak suka lari di malam roso coba lari 5 km, dari sana perlahan diarahkan ke event yang lebih besar. Senang melihat banyak perubahan, dan orang-orang yang telah berubah dalam hal berolahraga," tutup Addri dengan tampang penuh kebanggan.