Karya 8 Seniman Yogyakarta Bakal Unjuk Gigi di Beijing International Art Biennale 2017
Budaya

Karya 8 Seniman Yogyakarta Bakal Unjuk Gigi di Beijing International Art Biennale 2017

Depok (sleman.sorot.co) -- Karya-karya seniman Indonesia terus mendunia. Setidaknya selama tiga pekan, karya 17 orang seniman Indonesia bakal turut dipamerkan dalam Pameran Seni Rupa 7th Beijing International Art Biennale (BIAB) 2017 di Tiongkok.

Ke-17 seniman tersebut adalah Chusin Setiadikara, Eddy Asmara, Johan Abe, Joni Ramlan, Made Wianta, Mangu Putra, Nyoman Nuarta, Paramahita, Made Gede, Putu Edi Asrama, Yince Djuwidja, Camelia Hasibuan, Erizal, Gatot Indrajati, Ivan Sagita, Januri, Nasirun, Sigit Santosa dan Ugy Sugiarto.

"Dari Yogyakarta ada delapan orang, lalu sisanya ada dari Bali, Jawa Barat, dan Jawa Timur," kata Kuss Indarto, kurator Indonesia dalam BIAB 2017, ketika acara Crossing Current : Indonesia Artist go to 7th BIAB 2017, Rabu (13/9/2017).

BIAB merupakan perhelatan dua tahun sekali dan tahun ini bakal digelar di pusat kota Beijing pada 24 September - 15 Oktober 2017, diikuti sekitar 300 seniman asal 103 negara. Seniman Indonesia bakal menempati ruang special exhibition bersama seniman asal Georgia, Yunani, dan Mongolia.

Menurut Kuss Indarto, belasan seniman Indonesia lolos melalui seleksi ketat oleh tim kurator BIAB selama hampir setahun. Para seniman harus bisa membuat karya seni rupa bertema Jalan Sutera dan Pemberadaban Dunia. Kaitan dengan tema utama tersebut maka setiap negara yang mendapatkan ruang special exhibition bebas untuk menafsirkannya. Indonesia yang mendapatkan kesempatan tersebut mengambil tema Arus Persimpangan.

Pemilihan tema tersebut untuk membuka lembaran sejarah bahwa sekitar abad kedua masehi dan berlanjut abad ke-16 masehi, jalur laut nusantara menjadi jalan sutera Tiongkok dalam misi berdagang. Dampaknya pun bisa dirasakan dengan adanya akulturasi budaya di nusantara, serta kawasan yang dilalui jalan sutera. Terobosan ekonomi itu juga berdampak besar pada aspek sosial, politik bagi Tiongkok sendiri, dan negara - negara Arab, Eropa Timur, hingga Eropa Barat.

"Ini untuk memaknai kenyataan bahwa wilayah nusantara sudah berabad-abad lalu menjadi medan penting untuk perlintasan berbagai kebudayaan yang ada di dunia, termasuk kebudayaan besar seperti India dan China," jelas Kuss Indarto.

Sementara itu, Ketua Indonesia China Art Association, Yince Djuwidja mengaku karya seni mendapat perhatian tinggi di Tiongkok. Dan karya seniman asal Indonesia memperoleh apresiasi karena dinilai lebih bebas, tidak ada bingkainya, dan lebih berani.

"Di China karya-karya seni sangat diperhatikan termasuk dari luar negeri," katanya.

Ditambahkannya, penyelenggaraan BIAB 2017 bertepatan dengan libur panjang di Tiongkok sehingga momentum pameran tersebut diprediksi bakal dikunjungi banyak orang. Selain menampilkan karya 17 seniman, tim kurator Indonesia juga diberi waktu untuk memaparkan perkembangan seni rupa di tanah air.