Gemayomi Gelar Sarasehan Jogja Melawan Intoleransi
Sosial

Gemayomi Gelar Sarasehan Jogja Melawan Intoleransi

Godean (Sleman sorot.co)--Gerakan Masyarakat Gotong Royong Melawan Intoleransi (Gemayomi) menggelar sarasehan bertajuk Jogja Melawan Intoleransi yang diselenggarakan di Joglo Cemara atau di Posko EW Inisiatif Jalan Cemoro Mulyo No 7 Sidoagung-Godean Sleman. Jumat (12/08/2022) malam.

Sarasehan Jogja Melawan Intolenransi dihadiri kurang lebih 150 peserta baik dari Gemayomi sendiri maupun elemen masyarat yang lain serta para tokoh lintas agama di Yogyakarta.

Kegiatan kali ini sengaja digelar dengan kembali maraknya kasus kasus intoleransi yang terjadi dibeberapa wilayah termasuk di Yogyakarta sendiri, dimana kota Yogyakarta sendiri berpredikat sebagai city of tolerance.

Hadir sebagai narasumber dalam sarasehan ini yakni My Esti Wijayati, selaku Ketua Dewan Pembina Gemayomi, sekaligus Anggota DPR RI Komisi VIII, Ketua Umum Gemayomi yakni Prof Dr Mukhtasar Syamsudin, serta Dosen UMY yakni Dr Yuli Qodir.

Dalam kesempatan tersebut My Esti Wijayati mengatakan, kasus mengenai intoleransi tidak hanya terjadi baru-baru ini saja yang kemudian hangat. Bahkan sebagian orang menganggap hal tersebut bukanlah sebuah intoleransi.

"Kasus Intoleransi tidak hanya terjadi baru baru ini saja, yang sebagian bilang ini bukan Intoleransi, ini bukan pemaksaan dan yang lain lain. Tapi kasus Intoleransi ini sesungguhnya yang saya hadapi sudah berlangsung cukup lama, dan selama itu mayoritas memilih diam tidak bereaksi terhadap kasusnya," ujar dia.

MY Esti Juga menceritakan kejadian besar terkait dengan Intoleransi saat dirinya masih berada di DPRD DIY seperti halnya yakni kasus Pangukan, yang seolah olah sengaja dibiarkan, Gereja Kalasan, maupun masjid Banguntapan, serta yang belum lama baru saja pihaknya juga mencoba berkomunikasi yakni kasus yang terjadi di Mangir, Bantul. 

Tidak hanya di kota Yogyakarta saja, namun kasus intoleransi juga terjadi di beberapa daerah diluar Jawa. MY Esti Wijayati bersama Gemayomi sendiri juga sering melakukan pendampingan Advokasi terkait dengan kasus Intoleransi. Pihaknya menyesalkan kenapa justru dikota berdirinya Gemayomi sendiri yakni Yogyakarta justru bertubi tubi terjadi kasus Intoleransi.