Karena Mertua, Perempuan Ini Kembangkan Bisnis Obat Herbal dari Bawang Hitam
Ekonomi

Karena Mertua, Perempuan Ini Kembangkan Bisnis Obat Herbal dari Bawang Hitam

Kalasan,(sleman.sorot.co)--Berawal dari ide bisnis sederhana yang dimiliki, seorang ibu rumah tangga asal Dusun Karangmojo, Purwomartani, Kalasan, Sleman, Amilatul Fadhilah (38), mampu memperoleh keuntungan hingga juta rupiah setiap bulannya.

Bisnis skala rumahan yang dijalaninya tersebut yakni membuat usaha produksi obat herbal Bawang Hitam Tunggal (Bahitung) atau biasa juga disebut black garlic. Dalam waktu relatif singkat, yakni beberapa bulan saja, ia sudah mampu memasarkan produknya ke berbagai daerah di Indonesia. Bahkan ia juga telah mengekspor ke luar negeri seperti Malaysia dan Taiwan. 

"Awalnya bapak mertua saya mengalami sakit kolesterol dan asam urat. Setelah diobati dengan bawang hitam ternyata langsung sembuh. Melihat khasiat luar biasa bawang hitam itu akhirnya saya berpikir untuk memproduksi dan menjualnya sebagai obat herbal," ujarnya, Kamis (25/10/2018). 

Bawang putih tunggal atau juga biasa disebut bawang lanang sendiri sejak lama memang telah dikenal di berbagai belahan dunia sebagai obat herbal tradisional yang memiliki khasiat luar biasa. Sehingga bawang hitam kerap digunakan untuk obat kesehatan serta mengatasi berbagai macam penyakit seperti batuk, sesak napas, kolesterol, stroke, hipertensi, hingga tumor dan kanker.  

"Disebut bawang hitam karena memang warnanya yang hitam. Ini merupakan hasil fermentasi dari bawang putih tunggal dengan cara dipanaskan," ujarnya. 

Dalam menjalankan usahanya, wanita yang akrab disapa Mila itu memanfaatkan salah satu ruangan berukuran 4x6 meter rumahnya, guna memproduksi obat herbal bawang hitam. 

Dijelaskan, proses pembuatan pun terbilang sangat mudah yakni bawang putih tunggal yang telah disortir tinggal difermentasi dengan cara dimasukkan dalam pemanas seperti penanak nasi selam kurang lebih 7-9 hari.

"Selama proses pemanasan itu kita tinggal rutin membolak-balikkan saja. Minimal 2 hari sekali. Agar pemanasan bisa rata. Setelah 9 hari, bawang baru diangkat, didinginkan dan dikemas," lanjut Mila.

Awalnya, ia hanya mampu memproduksi 1 kilo bawang, namun kini ia telah mampu mengolah sekitar 2 kwintal bawang setiap bulannya. Dari jumlah itu ia pun bisa memproduksi dan menjual sekitar 200 toples lebih bawang hitam ukuran 250 gram. Sedangkan untuk pasokan bawangnya, ia mengaku bahwa dipasok langsung dari petani di Jawa Timur. 

"Satu toples biasa saya jual Rp 100 ribu untuk distributor dan Rp 150 ribu untuk agen," ungkapnya.

Untuk pemasarannya, Mila mengaku dipasarkan secara online. Selain itu, ada juga pelanggan tetap dari berbagai Indonesia, mulai Aceh hingga Papua.

"Permintaan pasar terhadap produk ini masih sangat tinggi dan sangat banyak. Setiap hari kita selalu kirim. Tingginya permintaan disebabkan karena obat herbal ini tidak memiliki efek samping sama sekali. Untung dari penjualan baru dikit, Rp 2-5 juta per bulan," tandas Mila.